e-restribusi diharap bisa penuhi target PAD

Kategori: e restribusi Tanggal: 15-11-2018 23:23 Oleh: RIKHA KHUSNIA ULFA A.Md Telah Dibaca: 131 kali

ERA tehnologi digital seperti sekarang ini menuntut pemerintah Kota Malang untuk lebih kreatif. Dalam kaitan itulah Dinas Perdagangan melaunching  e-retribusi, yaitu pembayaran retribusi berjualan oleh pedagang pasar rakyat se-Kota Malang ke sistem  Elektronic Data Capture(EDC). Sistem ini langsung conecting dengan Bank Jatim yang sudah menjalin kerja sama dengan Dinas Perdagangan Kota Malang.  Program tersebut merupakan rangkaian target 99 hari kerja pasangan Bapak Walikota Drs. H. Sutiaji dengan Wawali Sofyan Edi Jarwoko.

Program ini patut di dukung oleh semua pihak, terutama oleh para pedagang. Karena program ini diharapkan bisa mengamankan dan menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi pelayanan pasar.

Program ini,  dari sisi pedagang bisa mempercepat dalam layanan membayar retribusi hariannya. Karena pedagang tak perlu lagi menyediakan uang tunai. Dan, pedagang bisa sambil menabung. Jika program ini sukses, jangka pendek selanjutnya, diharapkan oleh pedagang bisa menarik kembali konsumen pasar rakyat yang beralih ke pasar modern dengan persaingan yang sehat.

"Kita tak bisa selamaya memproteksi pasar rakyat karena sekarang ini kita menghadapi era perdagangan bebas. Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kualitas pasar. Baik dari sisi pelayanan maupun penampilan pasar " ujar Wahyu Setianto, Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang.

Jangka panjangnya, suatu saat nanti, tidak ada segmen-segmen bagi pasar rakyat maupun pasar modern. Nanti seluruh lapisan masyarakat bisa berbelanja ke pasar rakyat maupun modern. Tetapi polanya, kalau harian belanja di mana, bulanan di mana. Ini yang akan ketemu sendiri polanya. Ajak kembali keluarga untuk belanja ke pasar rakyat. Jangan sampai anak cucu kita kelak tidak mengenal apa itu pasar rakyat. Faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan menggerakkan kembali ke pasar rakyat adalah : Semua stakeholder harus mau berubah

" kalau semua mau sama-sama bergerak, saya yakin bisa. Siapa pun memberikan yang terbaik dalam pelayanan, itulah yang akan menarik hati konsumen. Pembelilah yang akan memilih. Belanja ke pasar rakyat, atau pasar modern. Sehingga persaingan bisa kompetitif. Pemerintah memang berpihak pada pasar rakyat, tetapi tidak boleh menghalang-halangi yang besar" lanjut Wahyu.

Persoalan yang paling mendasar yang dikeluhkan oleh masyarakat, rata-rata mengeluhkan infrastruktur dan pelayanan pasar rakyat. Kalau soal harga barang yang akan dibeli relatif bisa bersaing bahkan cenderung lebih murah dan barangnya lebih fresh. Sekarang bagaimana mungkin, pasar bisa diakses dengan baik oleh masyarakat kalau kotor dan kumuh. Aksesnya susah. Pelayanannya juga kurang atau seadanya. Harus di manage dengan betul. Pedagang diajak berpartisipasi tanpa harus melakukan investasi. Minimal pasar memiliki infrastruktur yang memadai. Setiap pasar bertanggung jawab terhadap pengelolaan pasarnya. Yang harus ditanamkan adalah pedagang harus bisa melayani dengan baik. Mereka harus memosisikan pembeli sebagai raja. Setiap pasar harus bekerja sama. Demikian pula antara pengelola (Kapas) dan pedagang, harus menjadi gerakan bersama.  Oleh karena itulah, program revitalisasi pasar rakyat yang sudah dilaksanakan oleh Dinas Perdagangan Kota Malang dua tahun terakhir ini, akan terus dilakukan. Bahkan saat ini disiapkan, segera menyusul seperti pasar Oro-orodowo yang sudah sukses meraih pasar ber-SNI. Adalah pasar Gadanglama, pasar Klojen, pasar Bunulrejo. Tak ketinggalan pasar loak Comboran Baru Barat juga sudah selesai direvitalisasi.

Jadi, Ayo...!!! Kembali Belanja ke Pasar Rakyat. (Rika)